Menu

Pasar Hidroponik Luas tapi Petaninya sangat Kecil

Bu Asih (kiri) Semangat Mengembangkan Tanaman Hidroponik. (Foto: Bintang Samudra)

 

hariansuara.com, Jember – Perkembangan media sosial ternyata memberikan bermacam-macam peluang. Salah satunya adalah wanita yang tinggal di Jember ini, Asih Tri Lestari. Lewat facebook, ia mendirikan komunitas yang kini lagi naik daun, yaitu Komunitas Hidroponik Jember (KOHJE).

 

“Anggotanya lumayan banyak, tetapi yang aktif hingga kini, jumlahnya 35 orang,” tutur wanita yang tidak bisa berpangku tangan dan menyukai kegiatan menantang ini.

 

Hobi tanaman unik

 

Asih memang pecinta tanaman. Ibu rumah tangga ini memenuhi kebunnya dengan bermacam tanaman.

 

“Tetapi saya memilih tanaman unik dan langka, misalnya saja durian pelangi, durian merah, kelengkeng aroma durian dan sebagainya,” tuturnya.

 

Hal ini memberikan kepuasan tersendiri saat melihat tanaman yang dirawatnya berbuah dan berkembang biak.

 

“Namun lama-kelamaan, saya mulai bosan karena tidak ada tantangan lagi,” ujarnya kepada hariansuara.com.

 

Ia kemudian beralih, menanam cabe unik.

 

“Saya pernah menanam  90 varietas cabe unik. Seperti cabe pelangi, cabe hias, termasuk juga tomat hitam. Tapi berulang lagi. ketika semua sudah berhasil tumbuh dan berbuah serta panen, eh mulai lagi bosan.”

 

Lalu pada 2009, Asih menemukan tanaman dengan tehnik hidroponik.

 

“Kayaknya menarik banget. Tapi pada tahun 2009 itu, masih belum booming. Jadi belum tahu harus belajar ke mana.”

 

Baru kemudian didengarnya ada komunitas hidroponik Surabaya. Saat itu belum banyak ahli hidroponik, maklum baru saja mulai berkembang di sini.

 

Tanaman Hidroponik Memiliki Banyak Kelebihan. (Foto: Bintang Samudra)

 

“Saya ingin sekali belajar ke Surabaya, tetapi ternyata biayanya sangat mahal, berat untuk kantong saya. Dan juga saya harus meninggalkan anak-anak untuk pelatihan tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar sendiri. Dua tahun lamanya saya jatuh bangun mengusahakan sendiri bagaimana menanam tanaman hidroponik.”

 

Di awal 2011, Asih telah mulai mampu memahami dan menanam sejumlah tanaman secara hidroponik. Karena aktif di media medsos, “Saya mulai share-share mengenai hidroponik lewat facebook. Eh, ternyata banyak sambutan dari teman di FB. Mereka yang membaca status saya mulai antusias terhadap hidroponik. Kami sering tukar  pengalaman dan diskusi tentang hidroponik, wah seru juga. Akhirnya saya tawarkan untuk mendirikan komunitas Hidroponik Jember, atau Kohje, untuk mewadahi pegiat hidroponik di Jember dan sekitarnya. Hal ini sangat menguntungkan, karena kami tidak perlu pergi jauh-jauh meninggalkan rumah untuk belajar tentang seluk beluk hidroponik.”

 

Ingin mendorong ke bisnis, bukan hanya hobi

 

Anggota yang aktif di komunitas ini terdiri dari berbagai kalangan.

 

“Terdiri dari berbagai kalangan. Orang tua, remaja, ibu bapak, mahasiswa. Kami hampir setiap hari berkomunikasi lewat facebook. Agak jarang kopi darat, karena masing-masing punya  kesibukan. Kalau perlu juga bisa komunikasi via WA,” tutur Asih.

 

Banyak hal yang dikomunikasikan bersama antar anggota komunitas. Misalnya mengatasi  hama, dan suhu yang kadang mengganggu pertumbuhan tanaman.

 

“Memang belakangan ekosistem mulai terganggu. Pengaruh alam juga sangat penting karena bisa merepotkan. Mau ditanam di luar, nanti digempur panas dan hujan terus-terusan. Mau ditaruh di dalam, kekurangan sinar matahari. Pasti bakalan gagal. Tetapi bagi teman-teman yang sudah serius menekuni sebagai bisnis, mereka rata-rata membuat green house.”

 

Asih merasa sangat cocok dengan tehnik hidroponik ini.

 

“Karena hampir semua tanaman bisa dibuat hidroponik, dari jenis sayur, bunga, buah. Keuntungan sistem hidroponik itu banyak lho. Kita tidak perlu lahan luas dan subur. Tanaman cukup ditaruh di teras, sudah bisa tumbuh. Karena pakai air, kita juga tidak butuh tanah.”

 

Menurutnya, tehnik ini pas sekali bagi mereka yang sibuk.

 

“Kan tidak harus menyiram. Tidak perlu takut ada cacing, Dan tangan kita tetap bersih. Apalagi pertumbuhan tanaman hidroponik ini jauh lebih cepat daripada yang ditanam di tanah.”

 

Hindari bosan dengan serius bisnis

 

Penanaman hidropononik dalam skala yang besar, tidak perlu mencangkul. Hama juga bisa cepat dikendalikan.

 

“Soalnya nutrisi kan ada di bagian tandon tanamannya. Jadi tempat tanaman atau tandon tinggal dikuras, disterilkan kemudian tanaman sumber penyakit, diambil.“

 

Kini Asih sudah mulai memiliki pasar tersendiri bagi produk tanaman hidroponiknya. Pemasaran dari komunitas, tanaman hidroponik mengambil segmen pasar menengah ke atas.

 

Banyak Keuntungan dari Konsep Hidroponik. (Foto: Bintang Samudra)

 

“Tetapi sekarang ini agak repot. Pembelinya ada, eh yang nanem tidak ada. Umumnya mereka hanya seputar hobi saja menanam hidroponik. Yang serius berbisnis masih dalam hitungan jari. padahal pasarnya masih sangat luas. Kita juga harus menjemput bola, tidak hanya menunggu pasar.”

 

Asih berharap akan banyak anggota komunitas mulai ke arah produksi untuk bisnis.

 

“Kalau cuma sekadar hobi, lama-lama akan bosan. Tetapi kalau ada transaksi, ada income, kita akan lebih semangat. Nah, ayo bercocok tanam dengan hidroponik. Banyak untungnya kok daripada ruginya,” pungkasnya. (Bintang Samudra)


+ 0
+ 0

BERITA LAINNYA

FOTO

HARIANSUARA TV

United Kingdom Bookmaker CBETTING claim Coral Bonus from link.

SPORT