Menu

Korean Culture Center di JFW 2017
Aktor Reza Rahardian di Malam Puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2016

Badui Miliki Motif Tenun Yang Indahnya Sangat Juara

  • Editor Albi Wahyudi

 

 Tenun baduii

 

hariansuara.com, Jakarta – Indonesia banyak sekali daerah-daerah penghasil tenun.  Salah satu daerah penghasil tenun di Indonesia adalah di daerah Banten tepatnya di suku pedalaman Badui. Tenun yang dibuat di daerah ini memiliki corak dan keindahan sendiri serta banyak digemari masyarakat. Sampai saat ini, masyarakat Badui masih menjalankan amalan tapa karuhun (ajaran nenek moyang) yang salah satunya adalah mewajibkan perempuan untuk menenun.

 

"Tenun Badui berbeda dengan tenun dari daerah lain. Bedanya dari motif dan cara pembuatannya," kata penenun asal Badui Saidah (30) yang sapaan akrabnya Adah.

 

Menurut perempuan yang menenun sejak usia 14 tahun tersebut, terdapat beberapa motif khas Badui yang tidak dimiliki oleh daerah lain, seperti motif bergaris suat songket, suat samata, dan motif dua segitiga adu mancung. 

 

Adah mengatakan, bahwa masyarakat Badui juga mempertahankan menenun dengan cara tradisional yang menggunakan tenun gedog. "Gedog itu karena saat menenun bunyinya 'dog' gitu," kata Adah dikutip Antara, Rabu, (16/8).



Setiap bagian dari alat tenun gedog memiliki nama masing-masing, seperti penyangga benang bernama cancangan, penyangga berbentuk mirip bambu bernama togtogan, ada pula jinjingan, pangrerean, dan sisir untuk merapatkan benang.

 

"Sekarang banyak tenun yang dibuat secara modern. Akan tetapi, kami tetap mempertahankan cara tradisional ini," ujar Adah.

 

Untuk membuat selembar tenun Badui dengan ukuran panjang 2 meter dan lebar 30 sentimeter, Adah membutuhkan waktu hingga 3 hari. Untuk ukuran yang lebih panjang atau lebar, waktu yang dibutuhkan juga makin panjang.

 

Adah yang juga pemilik industri kecil menengah (IKM) tenun Badui bersama kakaknya, menjual syal hingga bahan tenun dengan harga Rp100 ribu hingga Rp400 ribu per helai.

 

Ia mengaku, tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan baku. Misalnya, benang tenun polos, diperoleh dari daerah Majalaya. Bahan baku ini kemudian dicelup dengan berbagai warna, mulai dari pewarna sintetis hingga pewarna alam di daerahnya sendiri.

 

Adah menambahkan, bahwa masyarakat Badui mulai menggunakan pewarna alam untuk membuat kain tenun yang bahan pewarnanya didapat dari hutan yang ada di Badui.

 

Kalau warna alam itu tidak terlalu terang, lebih lembut. Kami dapatnya dari hutan Badui. Peminantnya saat ini mulai banyak, ucap Adah.

 

Sementara itu, Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan, bahwa produksi secara "handmade" dan penggunaan bahan baku dari alam merupakan salah satu wujud pelestarian budaya yang telah dilakukan nyata oleh para pelaku IKM.

 

Selama ini, sektor IKM dinilai berperan penting sebagai penggerak perekonomian regional dan nasional yang lebih tahan terhadap guncangan perekonomian global.

 

“Di tengah melemahnya kondisi perekonomian dunia, IKM cenderung mampu bertahan dan berdaya saing,” kata Gati.


Hingga saat ini, jumlah IKM mencapai 4,4 juta unit usaha dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 10,1 juta orang sehingga menjadi kekuatan bagi sektor mayoritas ini untuk terus memberikan kontribusi kepada negara dalam mewujudkan kemandirian ekonomi.

 

Pelestarian Tenun Gati mengatakan, tenun merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang perlu terus dikembangkan karena memiliki berbagai motif yang khas dan kental dengan nilai budaya nusantara yang patut dilestarikan.

 

Mengingat besarnya potensi industri tenun, pihaknya ingin menjadikan tenun sebagai "world heritage" seperti halnya batik yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia.

 

Menurut data Kemenperin, jumlah sentra IKM tenun yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia mencapai 369 sentra dengan jumlah perusahaan sebanyak 16.971 unit usaha.

 

Industri tenun nusantara hingga saat ini terus berkembang dan telah berperan penting sebagai penggerak perekonomian daerah sehingga mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat secara nasional.

 

Kain tenun mampu menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Hal ini dilihat dari nilai ekspornya pada tahun 2016 yang mencapai 2,6 juta dolar AS dengan negara tujuan utama Belanda.

 

"Kami terus berupaya mendongkrak kinerja industri tenun nusantara melalui peningkatan daya saing produk dan pengamanan pasar dalam negeri," tutur Gati.

 


Aksesori

Gaya Seleb

BERITA TERKAIT

FOTO

HARIANSUARA TV

United Kingdom Bookmaker CBETTING claim Coral Bonus from link.

SPORT