Menu

Jual Camilan sambil Fesbukan

Putri Ulul Mafluhah, S Pd, Menjual Makanan Khas Gresik lewat Media Sosial. (Foto: SHT)

 

hariansuara.com, Lamongan - "Masih ada sepuluh lonjor, Ciin... Monggo yang pingin bonggolan. Siap meluncur." Status di FB ini selalu menggelitik. Saat netizen sibuk update status, selfie, curhat dan semacamnya, Putri Ulul Mafluhah, S. Pd, menawarkan produknya. Sarjana Pendidikan Matematika dari salah satu universitas swasta di Lamongan yang biasa disapa Putri ini mencuri atensi jualannya via online.

 

Penjual dan pembeli sama-sama ketagihan

 

Produk yang ditawarkannya sangat jauh dari ilmu kesarjanaannya. Yang ditawarkan Putri adalah makanan khas dari Gresik, Jawa Timur. Namanya bonggolan, terbuat dari tepung dan ikan yang pada awalnya adalah bahan untuk kerupuk semisal kerupuk udang.

 

Namun setelah direbus dan sebelum diiris tipis-tipis untuk dijemur, bentuknya berupa bonggolan (gulungan). Karena berbahan udang atau ikan, maka rasanya seperti bakso ikan, bergantung jenis ikan yang digunakan. Cara penyajian bonggolan pun simpel. Cukup dicocol langsung dengan saus dan sambal. Bisa juga diiris kemudian digoreng seperti otak-otak goreng atau bakso goreng.

 

“Awalnya, saya sekadar iseng. Di beranda FB kan banyak yang wira-wiri nawarin berbagai produk. Kosmetik, aksesori, busana dan sebagainya.  Saya jadi pingin juga jualan. Tapi mikir apa yang bisa dijual,” tutur Putri mengisahkan awal dia buka `lapak` di berandanya.

 

Karena ia gemar makan bonggolan, maka kemudian terpikir untuk menawarkannya di FB. Ia memasak sendiri dan kemudian memotretnya untuk diunggah.

 

Semangat Memasak Sendiri di Dapur. (Foto: SHT)

 

“Di hari pertama ternyata banyak yang pesan, hitung-hitung sampai seratusan gulung,” tutur Putri takjub.

 

Sejak hari pertama itulah akhirnya Putri dan pembeli sama-sama ketagihan. Putri senang karena jualannya lagu keras. Pembeli senang karena mendapatkan camilan lezat dengan harga hemat.

 

"Kini sehari bisa laku 100 sampai 150 bonggolan. Kalau dikalkulasi, harga satu bonggolan Rp 7.000,00. Kalau laku 150 bonggolan, sehari bisa dapat satu jutaan. Dikurangi biaya produksi dan lainnya, ya profitnya sekitar separuhnya,” tuturnya riang.

 

Rugi kalau malu

 

Putri mematok pembelian online ini minimal 3 gulung. Harga termasuk biaya pengiriman kalau di kota Lamongan. Pemesanan tidak bisa dadakan, namun harus sehari sebelumnya. “Besoknya tinggal antar. Sisanya ditawarkan lagi via FB-nya dengan kalimat sedikit menggoda. "Tinggal sepuluh bonggolan, Ciiin. Siapa cepat dia dapat."

 

Putri mengaku, “Awalnya ya sedikit malu. Kadang ada yang menggoda. Sarjana cantik-cantik kok jualan bonggolan. Apa nggak minder, mbak? Tapi pertanyaan itu jadi cambuk bagi saya. Ini tantangan baru. Kalau malu kan rugi, yang penting ini kerja halal," ungkap Putri yang kelahiran 1991 ini.

 

Bonggolan Siap Dijual. (Foto: SHT)

 

Yang membuatnya sedikit repot ketika sang suami agak keberatan dengan kegiatannya ini. Namun pengguna FB ini mampu mengatasinya dengan penjelasan yang baik dan logis.

 

"Tanpa mengurangi cinta saya kepada suami dan anak semata wayang saya, akhirnya suami saya mengizinkan. " begitu pungkasnya.

 

Ternyata, gelar sarjana tidaklah mesti dimanfaatkan bekerja sesuai ilmu yang telah dikantonginya. Namun berbanding lurus dengan niat dan kerja keras seseorang. Minimal, inilah pengakuan Putri Bakoel Bonggolan Lamongan. (SHT)


+ 0
+ 0

Terkini

BERITA TERKAIT

FOTO

HARIANSUARA TV

United Kingdom Bookmaker CBETTING claim Coral Bonus from link.

SPORT