Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Dari Kuli Bangunan Menjadi Usahawan di Jepang

Diaspora
15 Jun 2017
Dari Kuli Bangunan Menjadi Usahawan di Jepang

hariansuara.com, Jakarta – Siapa menyangka seorang warga negara Indonesia yang tak menginjak perguruan tinggi itu mampu memiliki bisnis yang lumayan hebat di Jepang?

Adalah Mahmudi yang ber-KTP Tanen, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur bisa berjaya di Jepang. Pria yang hanya lulusan Madrasah Aliyah Negeri 3 di Tanen ini berhasil mendirikan perusahaan Keihin Co., Ltd. yang bergerak di bidang subkontraktor dan agen perjalanan.

 

Bertemu Jodoh di Bali

“Awalnya saya ingin kerja di hotel. Jadi saya merantau ke Bali. Untuk itu saya kursus bahasa Jepang di Bali. Tapi saya malah ketemu jodoh. Ada teman guru saya, namanya Noriko Fukumoto tertarik pada saya,” begitu Mahmudi mengisahkan perjalanan hidupnya.

Hal ini tentu saja tak disia-siakan, karena Mahmudi juga menaruh hati pada wanita Jepang tersebut. Bahkan ketika dia mensyaratkan agar wanita Jepang itu masuk Islam, Noriko tak menolak.

“Kami menikah. Setelah itu istri saya mengajak saya pulang ke Jepang. Seumur-umur saya belum pernah naik pesawat. Dan itu pengalaman pertama yang sungguh menakutkan. Tapi kami tiba dengan selamat di Tanah Air istri saya itu,” tutur Mahmudi.

Itu terjadi tahun 2001. Mahmudi tinggal di rumah mertuanya di Kota Kawasaki. “Tapi saya tidak mau sekadar menumpang. Saya cari kerja apa saja, asal halal. Pertama, saya bekerja jadi petugas cleaning service. Setelah itu dapat kerja jadi kuli bangunan, lalu buruh kasar di rel kereta api. Sempat juga kerja di hotel.”

 

Mendirikan Usaha dari Tabungan

Bungsu dari tiga bersaudara itu tak mengeluh dengan kerja berat tersebut. Justru ia bersyukur karena ia bisa menabung. Satu hal lagi, ada peluang terbuka bagi masa depannya dengan segala macam kerja yang dilakoninya tersebut.

“Waktu kerja jadi kuli kasar di perusahaan kereta api, saya kenal baik dengan sesama pekerja. Dulu dia bos, tapi perusahaannya bangkrut. Jadi, dia terpaksa menjadi kuli. Usianya sudah sekitar 60 tahunan. Dialah yang memberi ide agar saya mendirikan perusahaan sendiri.”

Mahmudi kemudian mengajak teman tersebut mendirikan usaha pada 2007, bernama Keihin Co., Ltd. Rekannya tersebut menjadi direktur utamanya, karena dia memiliki jaringan yang luas. Modal yang digunakan adalah tabungan Mahmudi selama ini.

 

Memakai Nama Mertua

“Saat itu cukup berat, karena bagaimana pun juga saya adalah orang asing. Akhirnya saya berpikir untuk memberi tambahan nama saya dengan nama Jepang. Saya ambil nama keluarga istri saya, yaitu Fukumoto. Ketika saya menyampaikan hal itu pada mertua saya, dia sangat terharu. Dia tersanjung sekali. Karena di Jepang, tidak ada suami yang memakai nama keluarga istri.”

Sang mertua yang begitu terkesan pada Mamhmudi akhirnya tertarik menjadi mualaf, mengikuti putrinya.

“Dengan nama baru tersebut, ternyata banyak hal yang menjadi mudah ketika saya mengurus segala sesuatu. Saya juga bersyukur, karena saya banyak belajar dari teman saya ini. Perusahaan saya cepat berkembang. Ketika akhirnya teman saya pensiun karena usia, maka saya sendirian menjalankan usaha tersebut,” demikian ungkap ayah 2 anak ini dalam suatu kesempatan.

Perusahaan Mahmudi adalah perusahaan subkontraktor yang kerap menangani pabrik-pabrik minyak seperti Pertamina di Jepang. Mahmudi kemudian memperluas bisnisnya dengan membuka usaha agen perjalanan Keihin Tour. Dengan tekad dan kerja keras, Mahmudi kini menuai yen di Negeri Sakura. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU